Kamis, 26 Mei 2016

BERDARAH

BERDARAH  BERLALU
11 NOVEMBER 2014

Darah ? ya, darah keluar lagi dari dalam hidungku, selalu membuatku terkejut. Setiap pagi seusai mandi, darah itu selalu keluar dari dalam hidungku. Namun, aku tak terlalu menghiaraukannya, aku pikir itu mungkin hanya luka biasa yang disebabkan dari benturan ringan yang tak membahayakan kesehatanku. Itu terus menerus terjadi berulang kali. “ibu, hidungku keluar darah lagi.” Begitu aku berseru kepada ibuku yang sedang tengah menyiapkan sarapan untukku pagi ini. “memangnya kenapa ? apa kamu sakit? Mungkin bekas tonjokan dulu itu”. Begitulah ibuku menjawabnya. Pikiranku langsung melayang memikirkan bagaimana kalau nanti ini membahayakan diriku? Jujur aku tidak ingin orang-orang yang menyayangiku sedih karena mereka tahu kalau aku begini. Mereka telah memberikanku segalanya dari mereka , dan aku pun belum sempat membalasnya, dan aku tidak ingin memberikan sebuah penderitaan lagi untuk mereka yang mungkin akan lebih parah dari yang sebelumnya.
Aku berpikir darah yang keluar dari dalam hidungku, karena kejadian sadis dulu yang sempat membuatku putus asa dan kehilangan arah. Waktu itu Sabtu, aku mendapat acara untuk gladhi bersih panitera porda kempo yang akan dilaksanakan esok harinya. Namun, pikiranku berencana lain , handphone ku berbunyi kulihat ada pesan singkat masuk ternyata dari seseorang yang baru aku kenal beberapa hari lalu. Dia mengajakku untuk jalan bareng, aku pun mengiyakan ajakannya. Namun aku bingung harus bertemu dimana? Akhirnya dia memberitahukan lokasi untuk bertemu, kami bertemu di tempat penitipan kendaraan dekat pasar besar di kota ku. Dia telah menunggu disana dan aku segera menitipkan sepada motorku, karena aku akan satu mobil dengannya untuk jalan-jalan. Setelah masuk ke mobilnya, aku hanya menunjukkan senyuman saja tanpa berkata apapun, masih terasa canggung sekali , karena baru beberapa hari kenal.  Selalu dia yang memulai pembicaraan karena aku sendiri juga belum terbiasa berbincang dengan orang sepertinya. Dia memang orang yang populer dimana-mana, sampai-sampai setiap dia berada di tempat mana pun pasti ada yang mengenalnya. Dia terkenal dengan hatinya yang mulia. Sepanjang perjalanan aku sering berdiam diri saja dan hanya menanggapi perbincangannya dengan senyuman dan gumaman saja. Kami berkunjung ke Kaliurang, udara disana begitu dingin, tak lama telah sampai gerbang masuk Kaliurang dia membayar tiketnya, dan tak lama telah sampai di puncak Kaliurang. Dia mengajakku makan bersama, sambil kami bercanda tawa, berbagi cerita, dan ngobrol-ngobrol biasa. Setelah kami puas mengobrol dan selesai makan, aku pun mengajaknya pulang karena sebentar lagi waktu menunjukkan bagdha magrhib, pasti orang tua ku sudah menunggu dirumah, dan aku pun bingung alasan apa yang harus kuberikan untuk orangtuaku. Aku menyuruhnya agar agak cepat menyetirnya, supaya cepat tiba dirumah. Namun, dia malah hanya tertawa dan mengejekku, dia tahu bahwa aku sudah terbiasa pulang telat. Sepanjang perjalanan pulang, aku tak tahu sama sekali apa yang dia perbincangkan, aku memang lola(loading lama) atau lama nyambungnya. Yah...jadi aku cuman terlihat seperti orang o’on saja.hha. yang ada dia hanya tertawa berulang kali melihat ku seperti itu. Waktu menunjukkan pukul 19.25, kami telah sampai di penitipan kendaraan di kotaku. Sebelum aku turun dari mobil, dia mencium kening ku dan berkata “langsung pulang ya, jangan kelayapan kasihan orangtuamu telah menunggu di rumah.” Aku hanya menganggukan kepala dan keluar dari mobilnya, dan langsung saja aku masuk ke tempat penitipan kendaraan untuk mengambil motorku dan segera pulang. Namun, dipikiranku berencana lain, bahwa aku enggan untuk segera pulang dan aku ingat bahwa malam itu malam minggu pasti di pasar malam ramai banyak orang yang berkunjung disana. Tapi, tidak mungkin aku ke pasar malam seorang diri pasti tidak akan seru jika tak bersama teman. Segera aku kirimkan sms ke salah satu teman yang bernama Yusi, beberapa detik muncul balasan sms dari Yuka. Yuka menerima ajakan ku untuk pergi ke pasar malam. Langsung ku tancap gas menuju kerumah Yusi untuk menjemputnya, tak berapa lama aku pun sampai dirumah Yuka. Kami pun langsung menuju ke pasar malam. Setelah tiba di pasar malam aku mengirimkan sms ke Binsar pacarku waktu itu, kusuruh dia datang ke pasar malam menemuiku. Bangkit mengajakkku menaikki kora-kora salah satu permainan yang ada di pasar malam itu. Setelah usai menaikki kora-kora aku mengajak Yuka untuk membeli beberapa pakaian. Setelah itu, aku pun mengajak Yuka untuk makan bersama dengan Binsar juga. Kami bertiga makan kwe tio di pinggir jalan dekat pasar malam yang aku kunjungi. Tiba-tiba aku teringat akan pria yang baru aku kenal dan sebelumnya seharian jalan bareng denganku. Ku ambil handphone di saku ku, dan ku coba menghubungi dia namun, nomor telephonnya telah tidak diaktifkan lagi. Mungkin dia sudah tidur, memang dia jarang mengaktifkan telephonnya. Hatiku sedikit kecewa, lalu ku kembalikan pikiranku bersama Yuka dan Binsar, untuk makan bersama bertiga. Aku terkejut, tiba-tiba saja ada dua orang duduk yang tak agak jauh dari aku duduk. Ternyata mereka Risma dan Viko, mereka adalah orang yang sebelumnya tinggal satu rumah dengan ku dan kakaknya. Seminggu yang lalu aku diusir dari rumah kakaknya Viko, masalahnya aku update status di Fb yang dianggapnya mencemarkan nama baik keluarga Viko. Padahal tidak mengatasnamakan mereka samasekali, di dalam status akun fb itu hanya pemaparan tentang curahan hatiku yang semakin hari semakin berat dan tertekan saja.
Aku dan kedua temanku itu bercerita, entah apa yang salah dari ceritaku. Tiba-tiba saja Viko beranjak dari duduknya dan marah sambil menonjok hidungku hingga hidungku mengeluarkan darah segar dan sakit sekali rasanya hidungku, seperti ditusuk sate saja.ya Gusti.... Selanjutnya Risma yaitu pacarnya Viko akan menamparku tapi telah aku tangkap tangannya sehingga Risma tidak bisa menamparku, dia hanya menendangi ku, aku pun membalasnya dengan tendangan lebih keras. Maklum waktu itu aku masih aktif kegiatan beladiri KARATE ku, jadi tidak heran kalau apa yang diajarkan di beladiri aku terapkan saat kejadian yang membuat diriku terancam dan mendesak. Binsar juga membantu ku , dia menarik Viko menjauh dariku, tapi Viko juga memberikan tonjokan ke muka Binsar. Beberapa saat kemudian Viko dan Risma pergi, mungkin sudah puas menonjok hidungku hingga berdarah. Sebelum mereka pergi langsung saja aku ambil botol berisi saus cabe yang memang ada di warung itu, dan ku lemparkan ke arah Viko dan Risma. Tetapi tidak mengenai mereka, hanya mengenai motornya saja. Mereka pun langsung saja pergi sambil berkata-kata kasar kepadaku. Aku membayar makanan dan ganti rugi botol yang telah aku lemparkan hingga pecah. Langsung saja aku mengambil motor ku dan bermaksud untuk mengejar Viko dan Risma, tapi Binsar mencegahku. Aku berpikir, daripada menambah masalah aku pun menuruti Binsar untuk tidak mengejar mereka.
Yuka ku ajak pulang , waktu telah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Aku takut nanti orang tua Yuka marah, karena pulang telat. Akhirnya aku dan Yuka mampir di tempat saudaranya Viko. Aku mengadukan masalah yang baru saja terjadi kepadanya (saudaranya), tapi dia tak begitu merespon dengan baik. Seakan-akan dia senang atas permasalahan yang baru saja terjadi. Membuatku begitu jengkel, lalu aku pulang dan mengantarkan Yuka pulang kerumahnya. Setelah sampai dirumah, langsung ku ceritakan masalah yang baru saja aku alami kepada ibu dan bapak ku. Mereka begitu kaget, dan sekejap mereka begitu khawatir dan sedih. Segera mereka mengajak ku ke kantor Polisi untuk melaporkan masalah yang menimpaku itu. Segera ku beranjak mengikuti mereka untuk pergi ke kantor polisi terdekat di daerahku. Setelah sampai di kantor polisi ternyata pihak polisi tidak bisa mengatasi masalah yang aku alami tersebut. Mereka bilang bahwa kejadiannya bukan di wilayah daerahku, mereka menyuruh untuk melaporkan ke kantor polisi yang dekat dengan kejadian tersebut. Aku dan orangtuaku langsung menuju ke kantor polisi yang dekat dengan kejadian yang sebelumnya aku alami. Namun setelah kami sampai setengah perjalanan ayah ku mengajakku untuk pulang dan ibu ku heran dan tetap bersikeras untuk tetap melaporkan ke kantor polisi. Namun ayahku segera memutar balik arah dan menuju rumah. Sesampainya dirumah ayah ku menceritakan perasaannya bahwa ia merasakan ketakutan yang amat sangat  untuk melapor. Maka ia lebih baik kembali dan mengurungkan niatannya itu.
Setelah kejadian itu, permasalahan semakin memuncak dan semakin memberatkan langkah-langkahku saja, tapi saat itu aku tetap berusaha menahan apa yang sedan aku rasakan , berusaha yakin kalau semua permasalahan yang selalu datang akan cepat berakhir dan memulai suasana yang baru yang lebih baik. Agak begitu terlupa juga , setelah kejadian itu bagaimana kejadian selanjutnya. Namun, Da selalu yakin kalau semua masalah yang pernah terjadi menimpaku berturut-turut akan segera berakhir dan mendapat jalan keluarnya. Karena semua maslah yang ada itu berasal dari Tuhan yang memang ingin memberikan ujian dan cobaan kepada umat-umatnya, untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan dan kesabaran mereka untuk terus bertahan dan bersabar dalam menghadapi segalanya yang diberikan olehNYA.

Jadi, kesimpulannya kalian temen-temen Da, jangan pernah patah semangat dan putus asa dalam menjalani kisah-kisah kehidupan yang ada di dunia ini. Semua itu adalah skenario Allah SWT yang telah sengaja di ciptakan untuk para umatnya, bagi yang mampu bertahan dan kuat menjalani segala macam kisah kehidupan di dunia ini maka mereka termasuk orang-orang yang taat kepada ALLAH SWT, dan sebaliknya bagi orang-orang yang mudah menyerah dan putus asa maka mereka akan menjadi pengikut para syaiton. Nauzubillah minzdalib....


Da minta maaf ya, cerita ini hanyalah sekelumit kisah kehidupan di masa lalu yang telah terkubur oleh masa-masa sekarang dan masa kedepannya nanti. Jadi, jika ada kata-kata Da yang mungkin menyinggung perasaan kalian jangan diambil hati dan ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun, ini hanyalah sekedar “ketikan penghilang kebosanan” hehehe... sekali lagi Da minta MAAF. J J J sebagai tambahan referensi saja oke !

Da Widni september 2013
yogyakarta