Jika seseorang hidup tanpa memiliki satupun impian maka ia ibarat burung tanpa sayap, begitulah kata pepatah. Namun, pepatah tersebut ada benarnya dan memang benar. Impian adalah suatu tujuan seseorang yang pada kemudian hari akan diwujudkan dengan nyata dan akan dinikmatinya. impian juga dapat membawa seseorang mencapai masa depannya yang bisa membuat dirinya lebih baik.
Tetapi tak semudah perkataan dari seorang motivator saja mewujudkan impian. Impian dapat terwujud karena adanya sebuah ikhtiar yang didasarkan pada sebuah keyakinan dalam diri seseorang. Jika percaya dengan keyakinan maka lambat laun semua impian akan terwujud dan menjadi nyata di depan mata.
Impian harus ada dalam perjalanan hidup kita, tidak hanya di impikan saja tapi tidak ada usaha dan kerja keras yang mendukung, tetapi perlu adanya kerja keras dan kesabaran dalam menhadapi segala rintangan dan hambatan.
Minggu, 23 November 2014
PERKEMAHAN
PERKEMAHAN
24-26 Juni 2014
Awalnya aku ragu akan untuk mengikuti kegiatan perkemahan yang lokasinya di BUMI PERKEMAHAN IV Girijati, Purwasari,Gunungkidul yaitu sebuah tempat villa penginapan dengan halaman dan taman yang luas dan berada wilayah dekat pesisir pantai Parangtritis. Alasan keraguan, karena pada kegiatan sebelumnya heking, ada permasalahan yang membuatku trauma,takut,minder dan banyak merepotkan orang banyak. Tapi, disamping itu aku sangat ingin sekali mengikuti kegiatan tersebut, soalnya tahun depan mungkin progam perkemahan siswa-siswi SMA ditiadakan ,mengingat bertepatan dengan bulan puasa. Dan juga bagi aku sendiri mungkin kesempatan terakhirku untuk mengikuti perkemahan yang setelah SMA belum bisa di pastikan untuk bisa lagi memperoleh kesempatan ini.
Sebelum hari keberangkatan kemah, aku telah mempersiapkan semua barang bawaan yang telah ditentukan pada waktu pembagian barang-barang bawaan setiap anggota Sanggah. Beruntung aku kebagian barang bawaan yang relatif sedikit, barang pribadiku hanya menjadi satu tas saja ,aku usahakan tidak melanggar barang-barang yang tidak boleh dibawa maka dari itu bawaan ku praktis. Dan barang untuk kelompok Sanggah ku hanya 3 macam barang saja, jadi tidak membuatku begitu repot. Packing barang aku lakukan malam hari sebelum hari keberangkatan, yang pada sebelumnya aku sempat kencan dengan Vandy. Dalam pertemuanku dengan Vandy sempat juga terjadi perdebatan diantara kita berdua, aku sempat frustasi namun aku juga lebih mutlak untuk melakukan perubahan dan aku harus melakukannya. Vandy bilang padaku bahwa kali ini dia merasa sangat kecewa dengan ku dan aku harus menyadari kesalahanku selanjutnya aku harus benar-benar merubah sikap buruk ku dengan menggantikan sikap yang semestinya yang menurut Vandy juga bagian sikap ku ini benar-benar sulit jika akan dihilangkan. Aku yang hanya bisa merasa malu karena Vandy tahu semua isi hati dan pikiranku, dan tak enak hati dengannya karena pasti aku dianggap tak menghargai semua pengorbanan Vandy , dan Vandy merasa semua pengorbanannya untukku hanya sia-sia saja. Aku pun mulai bersikeras untuk melakukan perubahan. Saat aku sedang sibuk-sibuknya mengepak barang pesan singkat dari seseorang muncul yang membuat Handphone ku berdering dengan nada “cab.mp3” yang memang nada permanen di Hp itu. Ternyata itu dari Vandy, seperti biasa Vandy mengirim pesan singkat yang selalu menanyakan “lg apa beb?”,lg dimana beb?,sama siapa beb?,udah makan blm?, dan sebagainya.
Aku sedang mengepack barang bergegas menuju kamar ku dimana Hp itu aku letakkan. Kemudian, langsung saja aku buka sms itu lalu ku baca dan membalasnya, setelah satu dua kali aku smsan dengan Vandy, aku kira dia akan membahas ulang perdebatan tadi siang tapi ternyata Vandy hanya menanyakan kapan aku berangkat kemah, dan Vandy juga pesan kepadaku, agar aku selalu menjaga kesetiaanku dan hatiku untuknya selama berkemah, jangan buat-buat masalah, dan juga jangan menumbuhkan perasaan baru kepada pria lain yang nantinya hanya akan membuat hubungan kita rusak bahkan berakhir. Aku pun setuju dan menuruti pesannya. Setelah beberapa lama, Vandy tak lagi membalas pesan singkat ku, mungkin dia sudah tidur karena Hpnya juga sudah tidak aktif, dan itu sudah menjadi kebiasaan bagi Vandy yang tidak ingin Hpnya tidak menjadi privasi lagi. Aku pun langsung pergi tidur, sebelum tidur aku berharap selama berkemah tidak ada lagi kejadian yang mengiris hatiku seperti kejadian heking yang agak terkesan seram karena berkaitan juga dengan makhluk astral.
Paginya, ibu ku telah mempersiapkan semua barang yang aku pack tadi malam, dan seperti biasanya sarapan dari ibu telah menghidang diatas meja untuk aku santap pagi ini. Ayahku yang biasa memberikan uang saku, kali ini memberikan uang saku untukku cukup banyak dari biasanya bila aku akan mengikuti kegiatan. Ibu dan ayah berpesan padaku agar menjaga sikap,perlakuan,dan bicaraku selama berkemah, tak lupa juga agar selalu menjaga kesehatan dan keselamatanku. Aku setuju dengan pesan mereka berdua, mereka tentu pasti menaruh kecemasan,kekhawatiran yang amat sangat, menjadi hal yang wajar bagi setiap orangtua.
Menuju ke sekolah aku diantar ayahku,sebelum keberangkatan aku dan siswa-siswa lain melakukan apel bersama, mendengarkan pengarahaan berkemah dari kakak-kakak DA. Setelah beberapa lama berbaris aku merasa bosan karena waktu sudah lewat dari jadwal tapi tidak juga segera berangkat, apalagi banyak sekali kata-kata yang pedas dari siswa-siswa lainnya, membuat hatiku sedikit sakit dan juga rasa kesel pun muncul dalam diriku, akhirnya aku pun merasa minder dan berpikiran pasti kegiatan kali ini tidak berjalan dengan mulus. Untung saja aku punya temen deket di sanggahku, namanya Arna dia baik dan semoga dia tidak memiliki sifat buruk seperti yang lainnya, tapi dia punya sifat yang tulus untuk berteman. Arna memberikan ku keoptimisan agar aku tidak minder , dan membiarkan semua perlakuan mereka terhadapku. Tapi tetap saja yang aku rasakan hanya ingin pulang dan pulang, tidak ingin mengikuti perkemahan ini. Aku pun berfirasat buruk, bahwa kali akan terjadi seperti heking sebelumnya, aku mersa takut sekali,tapi aku berusaha bertahan ,menenangkan diri aku sendiri, agar firasat dan ketakutanku berganti dengan kesenangan hati mengikuti perkemahan kali ini. Setelah di dalam Truk yang memang sebagai transport dari sekolah, rasa tidak yakin dan takutku masih saja menyelimutiku, Arna yang sedari tadi mengetahui hal itu , dia selalu berusaha memberiku keoptimisan, tapi tidak mempan untukku. Selama perjalanan aku berusaha untuk berdiam diri tidak seperti waktu heking hanya crewet yang aku tonjolkan. Tapi, itu tidak mengubah segalanya, malah yang ada sama saja seperti sebelumnya,aku yang mulai mendekatkan diri dengan Tuhan dalam hatiku hanya kalimat tasbih saja yang aku ucapkan, dan berharap supaya bisa merubah segalanya.
Kelihatannya sudah setengah perjalanan tiba-tiba saja truk itu berhenti, ternyata pengecekan apakah ada yang jatuh sakit. Tadinya aku tidak merasakan tanda-tanda akan pingsan , tapi sesaat kemudian aku yang tadinya berdiri , aku langsung mengambil posisi duduk dan aku merasaakan akan tidak tersadarkan diri, dan ternyata benar. Seingatku, setelah tersadar aku melihat diriku telah terbaring didalam ambulance dan sesaat, aku mungkin tidak tersadarkan diri lagi, karena pada akhirnya aku terbaring pada teras villa, ternyata aku telah sampai ditempat perkemahan. Disekitar ada beberapa kakak-kakak yang tergabung dalam satuan PMI, mereka berusaha membuatku aku cepat tersadar dan kembali sehat. Seperti biasanya bila aku mengalami tidak sadarkan diri, dan sesak nafas, efeknya tubuhku menjadi kaku bercampur dingin, bagaikan mayat hidup dan untuk menjadi normal pun begitu lama sekitar 30an menit.
Aku tersadar dari pingsan, kakak-kakak PMI berusaha untuk membuatku tertawa agar aku segera sehat dan normal. Seluruh tubuhku masih lemas ,aku belum mampu untuk berdiri , jadi aku masih terbaring dan sesekali aku duduk di sandaran kak Diana , rasanya enak sekali karena badan kak Diana yang gemuk dan empuk. .hehe. setelah beberapa lama, aku pun merasa agak baikan akupun diajak bergabung bersama PMI dan ngobrol-ngobrol bareng sambil ditemani hidangan teh dan beberapa makanan ringan sambil kami bersendau gurau. Tapi aku tetep diam saja dan sama sekali tidak tertarik dengan semuanya, aku menganggapnya tidak ada yang penting jika aku lakukan, pasti hanya akan aku dapatkan kecapean saja. Temen-temen PMI mungkin merasa kesel dan bosan karena aku yang tak kunjung bisa sedikitpun tersenyum ataupun memperlihatkan keceriaan di wajahku. Tapi mereka tetap saja bisa bersahabat denganku, tak lama kemudian salah satu guruku bernama Pak Imam menghampiriku yang sedang bergabung dengan PMI dengan membawakan segelas teh manis hangat, dia menanyakan keadaanku, dan bilang padaku bahwa dia juga telah menelpon orangtuaku mengabarkan keadaanku.
Aku yang adanya hanya lamunan saja beberapa kali selalu dikagetkan temen-temen PMI. Entah apa yang aku lamunkan , namun aku merasa begitu nyaman bila aku terus menerus melamun. Pada akhirnya mereka memutuskan aku tidak perlu mengikuti kegiatan pada hari pertama berkemah, tapi masih sama aku menanggapi dengan tanpa ekspresi , hanya bilang trimakasih pada mereka. Mereka menawariku untuk tidur,di dump temen-temen PMI yang telah mereka dirikan sedari tadi, kalau kondisiku belum juga pulih. Aku pun menerima tawaran mereka, dan aku tidur cukup lama di dalam dump bersama salah satu teman ku namanya Lita, dia merasa pusing dan perutnya mual,karena sebelumnya diperjalanan menuju lokasi dia muntah beberapa kali di dalam mobil ambulance. Maka Lita ikut tidur di dump bersamaku, cukup lama aku tertidur dan setelah bangun tapi tetap masih terbaring, aku mendengar suara Lita meminta ijin sama kak Diana mau kembali ke tenda sanggahnya, karena dia rasa pusing dan perut mualnya sudah hilang dan dia sudah merasa baikkan. Lita langsung diberi ijin dan dia pun langsung lari menuju tendanya. Aku yang masih merasakan tubuhku lemas dan belum mampu untuk bangun dari tidurku hanya diam dan melanjutkan tidurku sambil memegang leher belakangku karena terasa sakit dan sarafnya menarik kuat.
Matahari sepertinya semakin bersinar, adzan Dzuhur pun telah berkumandang, menunjukkan bahwa hari semakin siang pukul 12.00 WIB dan waktunya makan siang. Tetapi aku belum juga bangun dari tidurku, tubuhku masih terasa lemas sekali dan leherku masih kuat sakitnya. Tiba-tiba saja penutup dump di buka, seseorang membangunkanku beberapa kali tapi sudah menjadi kebiasaanku bila aku tertidur seperti orang mati yang diam saja karena pulas. “dik bangun, udah jam makan siang, kamu pasti lapar kan?”...kata-kata kak Diana yang berusaha membangunkanku, tapi tetap saja aku tak bergegas bangun, malah aku menggelengkan kepala saja tanda aku tidak mau makan. Kembali kak Diana bilang kalau tidak mau makan ya sudah aku disuruh tidur lagi biar benar-benar bisa pulih normal badanku. Aku berusaha untuk memejamkan mata ini agar aku bisa tidur pulas lagi, tapi gak bisa. Akhirnya kak Pika datang membawakan seporsi makanan untukku, katanya makanan itu yang ngirim dari temen-temen sanggahku,dalam hati aku berkata ternyata mereka peduli juga denganku. Mereka memaksaku untuk makan ,aku tetap tidak mau makan akhirnya makanan itu dimakan sama pak Samsury ketua PMI sekaligus sopir ambulance, dan temen-temen PMI yang lain berusaha menghiburku agar aku sedikit punya semangat.
Saat itu dalam hatiku berkata, kenapa mereka begitu pedulinya sama aku bahkan sudah kaya temen sepermainan yang telah bertahun-tahun menjadi sahabat, karena selama ini temen-temen aku belum pernah ada yang senetral mereka, belum pernah aku dibuat terhibur yang tulus dari hati temen-temen aku, belum pernah ada juga aku punya temen kaya mereka yang selalu happy bersendau gurau dan semuanya peduli saling toleransi saling menghargai dan bener-bener netral kaya yang aku lihat saat itu. Sebenarnya aku pengen banget punya temen-temen yang peduli,toleransi,netral saling menghibur jika ada yang lagi susah, tapi selama ini belum pernah kutemukan temen yang bisa jadi sahabat. Yang ada mereka selalu ninggalin aku saat aku lagi down, lagi banyak masalah, lagi susah, gak punya duit dan segala macem. Mereka ada waktu saat aku lagi ceria,banyak duit,nurut sama mereka,lagi posisiku diatas. Sering kali hati aku tertekan dengan semua perlakuan dan kebiasaan mereka itu, aku sakit hati dengan cara mereka yang selalu jauh-jauh sama aku, dan waktu aku tegur atau apa lah, mereka bilang maksud mereka bukan begitu mereka selalu bilang kalau mereka juga sahabat aku begitu juga sebaliknya. Terkadang aku bingung, apa sebenarnya yang kurang dari aku ,selama aku bareng sama mereka rasanya aku selalu dukung mereka dan lebih toleransi sama mereka, tapi mereka malah semakin menginjak-injak harga diri dan meremehkanku mereka menganggap aku gampang untuk dijadikan pesuruh mereka padahal aku lebih merendah dari mereka karena aku ingin mereka juga beri toleransi sama aku dan sebenarnya aku ikhlas melakukan semua itu kepada mereka. Hmm...gak usah panjang lebar , kembali lagi ke cerita...
Mereka menawarkanku untuk memilih ingin ke tenda atau di pendopo saja, aku hanya diam saja tak menjawab semua tawaran mereka. Kemudian aku menyuruh salah satu anggota PMI untuk memanggilkan Arna untuk menemuiku, saat itu kegiatan pertama telah dimulai yaitu game untuk setiap sanggah yang mengikuti. Aku hanya duduk menunduk sambil memegangi kedua kakiku. Tak berapa lama salah satu ibu guru pembimbingku datang menghampiriku dan menawarkan untuk ikut bersamanya di dalam kamar villa agar lebih merasa nyaman. Dan menawariku kalau aku mau pulang ,barengan sama bu Fad kepala sekolah saja , karena bu Fad juga nanti akan mengantarkanku sampai rumah. Aku lama berpikir , kalau aku benar pulang sia-sia saja aku sudah sampai di lokasi perkemahan, tapi kalau aku tidak pulang disini sama sekali tidak ada yang menarik buatku. Akhirnya aku pun ikut bersama bu End kedalam villa kamarnya dengan Arna juga, kami mengobrol di sana dan bu Fad menghampiriku menawarkan untuk ikut dengannya pulang dan akan diantarkan sampai rumah, bu Fad memintaku untuk menceritakan semua yang aku rasakan saat itu juga aku merasa takut terhadap pantai. Sepertinya bu Fad mengerti yang aku jelaskan , bu Fad juga bilang kalau ia fobia kuning telur. Karena waktu kecil bu Fad pernah menelan satu bulatan kuning telur dan hampir saja maut didapatkannya. Bu Fad berulang kali memintaku untuk pulang saja bersamanya, namun aku tetap bersikeras untuk ikut kegiatan nanti malam, aku juga meyakinkan bu Fad bahwa aku kuat. Akhirnya bu Fad setuju akan keinginanku, lalu bu End datang dan mengajakku ke pendopo depan untuk mengobrol dengan guru-guru lain sambil melihat game yang dilakukan temen-temenku yang lain. Kami duduk bersama di pendopo itu, dan salah satu guru ada yang bilang padaku, game menarik seperti itu apa kamu gak kepengen Da ? aku hanya menggelengkan kepala saja sambil tersenyum. Pak Im menghampiriku dan menanyaiku tentang semua kejadian saat itu pada diriku. Aku menceritakan dan sepertinya pak Im mengerti apa yang aku jelaskan.
Waktu telah menunjukkan pukul 15.35 itu berarti sudah sore hari, dan anak-anak yang melakukan game ataupun kegiatan lain terhenti sementara, mereka semua bergegas ke tempat mandi untuk membersihkan tubuh mereka dari kotoran yang seharian menempel di seluruh tubuh mereka. Tempat mandi di villa itu sebanyak lima kamar mandi dan mereka berantrian untuk bisa membersihkan tubuh mereka. Aku pun bangkit dari duduk ku dan mengambil peralatan mandi di dalam tas ku yang berada di kamar villa, dan menuju ke salah satu tempat mandi yang agak sedikit antriannya. Giliranku untuk mandi telah tiba ,aku mandi dengan dua teman perempuanku dan waktu mandi dibatasi 5menit selesai. Selesai mandi aku langsung menuju tenda sanggahku, dan aku hanya tiduran di sana karena badanku masih terlalu lemas, hanya lamunan saja yang aku lakukan. Sesekali temanku mengagetkan dari lamunanku dan berusaha agar aku tidak melamun saja.
Malam hari itu kami semua bersiap-siap untuk mengikuti caraka malam, sebelumnya aku menuju tenda PMI bermaksud meminta obat antibiotik, karena salah satu teman ku terkena radang dan badannya demam tinggi dan hingga jatuh pingsan, anggota PMI langsung menuju tenda sanggahku dan membawa temanku ke tenda PMI untuk di tangani. Seseorang datang dan memberi kabar bahwa orangtuaku menelpon dan memintaku agar makan dulu sebelum melakukan caraka malam. Terdengar pengeras suara mengumumkan bahwa semua siswa agar berkumpul di samping pendopo untuk persiapan caraka malam, kami berbaris dengan tertib dan mendengarkan penjelasan dari kakak-kakak DA. Sebelum kami semua berangkat melakukan caraka malam kami disuruh menutup mata dengan slayer, selanjutnya diminta untuk berusaha tidur agar dalam melakukan caraka malam tidak merasa kantuk di perjalanan. Cukup lama tidur dan menunggu giliran keberangkatan caraka malam, tubuhku dingin sekali tapi aku sendiri tidak merasakan kedinginan. Pak Im memintaku untuk keluar dari barisan dulu, karena ada telepon dari orangtuaku dan aku harus menjawabnya.
Kami berangkat caraka malam dan menuju pos-pos yang ada untuk mendapat tugas. Selama perjalanan sedikitpun aku tak merasakan takut, hanya perasaan santai saja yang ada, dan tak terasa tengah malam pun tiba tapi aku masih merasakan waktu belum tengah malam, dalam perjalanan kakak-kakak DA yang bertugas menakut-nakuti kami telah bersiap , ada yang mengerang seperti serigala, ada juga yang bersuara seperti kuntilanak atau setan lainnya. Kami melewati rintangan dengan mulus dan lancar. Sampai akhirnya sampai lokasi terakhir dan selesailah caraka malam. Esok harinya aku bangun tidur dan langsung bergegas mandi, hari itu aku memilih untuk menjaga tenda dan memasak. Aku tidak mau mengikuti kegiatan hari itu yang melewati pantai dan masuk ke dalam lumpur yang hitam dan kotor, apalagi badanku juga belum sembuh total. Aku menjaga tenda, memasak, dan mengurus kedua temanku yang sakit. Mereka aku masakan sop agar setelah kembali dari melakukan kegiatan caraka siang, lapar dan dahaga mereka terobati. Teman-temanku yang mengikuti kegiatan siang hari itu, dengan waktu yang dihitung kakak DA mereka cepat-cepat mengambil peralatan mandi, dan bergegas menuju tempat mandi untuk membersihkan tubuh dari lumpur yang menempel.
Sore itu lomba memasak dengan bahan dasar ubi jalar dimulai, kami semua berusaha membuat makanan dari ubi jalar menjadi nikmat agar mendapatkan peringkat. Sanggahku membuat makanan dari ubi jalar yang dibuat bulat dan di beri bubuk roti tawar agar saat di goreng menjadi renyah. Setelah 30 menit kami diminta mengumpulkan makanan yang telah kami buat karena waktu telah habis. Kami berharap agar makanan yang kami buat termasuk nikmat dan mendapat peringkat. Saat itu juga banyak sekali waktu bersantai, aku mendatangi tenda PMI yang disana beberapa teman PMI sedang berkumpul sambil mengobrol dan ditemani beberapa camilan. Mereka menyambutku dengan penuh keramahan dan senyuman. Salah satu dari mereka mendekatiku dan berkata apa yang kamu lihat?. Dia adalah kak Dwi yang juga dapat mengetahui keberadaan makhluk astral, dia bilang juga padaku agar aku tidak memuji dan membuat mereka(makhluk astral) tidak merasa di tinggikan keberadaannya karena hanya akan membahayakan diri. Aku juga menceritakan yang aku alami dan kak Dwi mengerti akan semua ceritaku yang dia dengar. Aku mengobrol dan bersendau gurau dengan mereka, sungguh mereka seperti sahabat baik ku yang lama bersama, mereka peduli terhadapku dan mau mendengarkan curhat ku, mereka juga berusaha membuatku ceria. Dan ini membuat aku sedikit lebih tenang dari semua kegundahanku. Namun tetap saja dalam keasyikanku , dalam hatiku berkata apakah Vandy memikirkanku saat aku jauh darinya? Apakah Vandy selalu menjaga hatinya walau aku tidak di dekatnya? Apakah Vandy hanya dirumah saja dan tidak macam-macam di sana ? apakah Vandy tidak akan bertemu atau pergi bareng bersama saudaraku ? hah...sudahlah , aku selalu percaya dengan Vandy bahwa jiwa dia berbeda dengan laki-laki kebanyakan , Vandy tidak mungkin melakukan perbuatan yang bodoh/konyol. Aku berusaha menenangkan hatiku yang diselimuti penuh kegundahan.
Adzan magrhib telah berkumandang, aku sedang tidak sholat jadi aku tidak ikut sholat berjamaah. Aku masih ngobrol bareng sama kak Diana dkk,di tenda PMI. Setelah sholat magrhib berjamaah selesai, aku pun kembali ke tenda sanggahku bergabung kembali bersama teman-teman. Dan aku lihat tiga teman ku dari 10 orang sedang sibuk berlatih menyanyi accapella-an, sedangkan yang lain duduk sambil mengobrol,ada juga yang tiduran dan ada juga yang sedang asik ngemil. Terdengar informasi dari pengeras suara bahwa sebentar lagi kita semua akan melakukan upacara api unggun, tapi keliahatannya langit tidak bersahabat malam itu sepertinya akan hujan dan langit sudah menitikkan airnya. Maka kakak-kakak DA meminta agar semua siswa segera menuju lokasi upacara api unggun. Dalam upacara api unggun yang sebagai pembina upacara adalah bu Fad kepala sekolah kami, setelah api dinyalakan dan terbakarlah kayu yang sengaja ditata rapi menyerupai piramida beberapa kembang api pun dinyalakan dengan suaranya yang khas dan nyanyian kami api kita sudah menyala menjadi terkesan lebih unik dan istimewa. Selesai melaksanakan upacara api unggun, kami semua kembali ke tenda sanggah masing-masing, untuk menunggu sambil mempersiapkan pentas seni. Malam itu adalah kegiatan terakhir dengan pentas seni tujuannya supaya kami semua dapat merasakan ke-enjoy-an,dan tentunya happy bareng. Waktu dimulainya pentas seni telah tiba dan berlangsung cukup meriah dan cukup untuk refreshing bagi para siswa yang merasakan kecapean,kejenuhan ataupun ketertekanan untuk mandiri dan jauh dari sanak keluarga. Lagu yang dalam pentas seni itu yang cukup membuat hati para penonton tersentuh yaitu lagu ayah yang dibawakan beberapa orang secara bergantian dan bermacam cara pembawaan mereka misalnya musik yang dibawakan secara berbeda.
Disisi lain aku menyendiri ikut bergabung bersama teman PMI karena aku baru tidak suka kebrisikan di tengah orang banyak. Aku duduk diantara kak Diana dan kak Pika yang selalu mau menjaga dan menemaniku. Tubuhku masih agak lemas, dan aku pun sama sekali tak bergairah ataupun tertarik dan senang dengan adanya pentas seni itu, yang ada aku malah mengabaikannya karena menurutku itu bukanlah hal yang penting, hanya sekedar mungkin untuk cari perhatian dari seseorang yang mereka sukai atau mereka pengen mendapatkan pujian dari banyak orang, dan menurutku itu hanya akan buang-buang tenaga saja yang membuat capek. Cukup lama pentas seni itu berlangsung dan semakin lama aku merasa tidak nyaman ,berharap segera selesai pentas seni itu agar aku bisa cepat-cepat pergi ketenda dan tidur karena semakin lama aku merasa tubuhku drop. Kak Okik yang masih duduk dengan ku memberikan spring untuk aku kenakan agar aku tidak jatuh sakit lagi, kak Okik seperti adek aku yang selalu berusaha menjaga kakaknya dia masih seperti anak kecil tapi baik dan peduli kaya sahabat sejati. Aku bilang ke kak Okik kalau aku lagi drop dan aku butuh istirahat , aku juga bilang kalau aku tidak merasa nyaman dengan pentas seni malam itu, dan aku juga bilang bahwa temen-temen aku itu sebenarnya selalu menjauhiku yang tidak pernah mau sama aku. Aku pun juga bilang aku kangen banget sama Vandy,orangtuaku, dan juga alat-alat elektronikku dirumah. Maka kak Okik menyuruhku agar kembali ke tenda sanggahku supaya sedikit lebih tenang. Awalnya aku ragu mau kembali ketenda, karena mungkin kakak DA belum mengizinkan untuk kembali ke tenda. Tapi setelah aku merasa tidak mampu lagi bertahan dalam drop ku ,aku pun langsung berjalan menuju tenda sanggahku dan langsung berbaring tidur. Tiba-tiba penutup tenda terbuka ternyata kak Okik yang menanyakan keadaanku, memastikan apakah aku benar tidak apa-apa kalau ditenda sendirian daln kalau aku tidak bisa sendiri akan dipanggilkan salah satu teman sanggahku ke tenda. Aku menggelengkan kepala memutuskan untuk sendiri saja di tenda. Beberapa kakak DA berjaga disekitar tenda kalau-kalau aku jatuh pingsan lagi dan kaku.
Sesaat kemudian pentas seni telah usai, dan aku mendengar suara ramai masuk ke dalam tenda mereka teman-teman sanggahku yang kembali dari menonton pentas seni, tapi aku semakin merasakan lemas diseluruh tubuhku, dalam hatiku sepertinya aku sudah tidak kuat lagi. Aku dibawa kedua temanku ke tenda PMI dan dibaringkan di ambulance untuk diberi bantuan oksigen , karena setiap aku jatuh pingsan aku mengalami sesak nafas, selanjutnya tangan dan kakiku kaku dingin. Mungkin cukup lama aku tidak sadarkan diri, aku terbangun dan disekitarku telah ada beberapa teman-teman anggota PMI yang menanganiku terutama kak Diana yang selalu ada disamping aku, saat-saat aku bangun dari pingsan. Malam itu aku tidur di dump bersama kak Diana dan kak Pika. Nyenyak sekali aku tertidur, seperti orang mati saja, dan susah juga kalau disuruh bangun.
Esok harinya, aku dibangunkan dengan suara lembut dan malas kak Diana memintaku agar segera bangun karena mentari sudah memunculkan wajahnya. Dengan malasnya aku membuka mata , seperti biasa setiap pagi usai bangun tidur pasti kebelet kencing pengen kebelakang, sepertinya pagi itu udara dingin sekali sama seperti tadi semalam yang dingin menusuk tulang. Aku permisi pada kak Diana akan kebelakang , dan langsung aku bergegas ke kamar kecil, tapi sial ternyata kamar kecil terpakai dan aku berusaha menahan maksudku ,menunggu agak lama. Akhirnya orang itu keluar juga dari kamar kecil, aku langsung menyerobot masuk dan lega akhirnya, pagi itu air di dalam bak tinggal sedikit, kran-nya pula mengalir sedikit air saja, huh hatiku agak sedikit kecewa karena tadinya aku sekalian ingin membasuh tubuhku supaya terasa segar dan lebih bersih, namun aku hanya membasuh mukaku saja agar tidak terlihat kumal saat dari bangun tidur. Terlihat teman-teman ku selesai berberes-beres dan merobohkan tenda karena pagi ini jam 09.00 kami semua akan melakukan upacara penutupan dan kembali pulang menuju rumah masing-masing. Hatiku seperti disiram air es dari kutub yang terasa dingin segar, senang sekali hatiku, akhirnya bisa pulang juga. Benar-benar aku tidak sabar ingin segera cepat-cepat sampai rumah , aku merasa tidak betah sekali ditempat itu. Langsung ku hampiri teman-teman sanggahku dan juga barang-barang yang harus aku bawa pulang. Sebelum kami pulang, terlebih dahulu kami melakukan upacara penutupan perkemahan lokasi BUPER Girijati Purwasari Gunungkidul. Upacara berlangsung dengan sangat khiqmat, pagi itu dua temanku pingsan mungkin akibat kecapean atau apa lah, yang jelas kami semua tidak ada yang lagi bener-bener fit setelah selama 2 hari 2 malam berkemah. Usai upacara penutupan, kami semua membawa barang-barang ke pinggir jalan, medan untuk mencapai jalan raya harus naik kira-kira 45 meter , huhh..betapa beratnya untuk mencapainya, jalan kaki biasa tanpa membawa barang saja sudah membuat nafas terengah-engah apalagi harus membawa barang-barang yang cukup banyak dan tidak ringan semua. Tapi, aku yakin pasti kuat dan bisa sampai di atas dengan semua barang bawaanku.
Akhirnya sampai di atas juga, langsung saja ku naikkan semua barang ke pick up pribadi yang memang disewa sanggah ku. Aku dan temanku kembali kebawah membantu salah satu temanku membawa barang yang belum terbawa ke atas. Dengan nafas yang terengah-engah ,kami tetap berjalan menaikki medan yang cukup tinggi itu dan akhirnya kami sampai juga diatas, langsung saja temen-teman satu sanggahku menaikki pick-up dan sopir segera tancap gas untuk segera pulang menuju tempat tinggal kami. Kami merasa haus sekali , kamipun berhenti disebuah toko bermaksud membeli minuman untuk melepaskan dahaga dikerongkangan kami. Kami membeli beberapa minuman dan langsung kami minum , dan lega juga dahaga terlepas dari kerongkongan kami yang kering. Sepanjang perjalanan kami tampak ceria sekali yang juga tidak sabar ingin segera sampai rumah dan beristirahat bersama keluarga yang 2 hari ini sempat berjarak jauh. Aku memberi kabar ayahku bahwa aku sudah diperjalanan pulang dan aku memintanya untuk menjemputku disekolah, dan aku pun tak sabar ingin segera menelpon Vandy , aku kangen banget sama Vandy yang 3 hari ini tidak bertemu ataupun komunikasi. Angin segar yang berhembus aku rasakan , membuat hatiku senang dan damai. Membuat aku teringat saat-saat kencan bareng dengan Vandy dan pernah juga jalan yang aku lewati saat ini yaitu jalan yang juga pernah aku lewati bersama Vandy beberapa bulan sebelumnya, yang paling buat ku ingat dalam perjalanan saat di dalam mobil kita bersendau gurau bersama, sambil sesekali bertukar cerita , sambil ditemani music-music khas kesukaan aku dan Vandy yang membuat jantung berdegub lega dan musik-musik itu enak dirasakan/diresapi, didengarkan nyaman jika sudah melekat dengan jiwa. Semua moment itu tak pernah bisa terhapuskan dalam ingatanku yang ada hanyalah bahagia,tenang, dan nyaman saja..
Setelah sampai di sekolah, aku menunggu ayah ku menjemput agak lama. Sedikit kecewa hatiku karena menunggu ayah yang lama tidak juga menjemputku, tapi tetap sabar menunggu sampai ayah menjemputku. Cukup lama aku menunggu akhirnya ayahku datang juga, akupun pulang dengan perasaan yang sangat lega bagaikan terbang diatas uap air terjun yang sekelilingnya dipenuhi tumbuh-tumbuhan yang menghiasnya.....
................alhamdulillah..
24-26 Juni 2014
Awalnya aku ragu akan untuk mengikuti kegiatan perkemahan yang lokasinya di BUMI PERKEMAHAN IV Girijati, Purwasari,Gunungkidul yaitu sebuah tempat villa penginapan dengan halaman dan taman yang luas dan berada wilayah dekat pesisir pantai Parangtritis. Alasan keraguan, karena pada kegiatan sebelumnya heking, ada permasalahan yang membuatku trauma,takut,minder dan banyak merepotkan orang banyak. Tapi, disamping itu aku sangat ingin sekali mengikuti kegiatan tersebut, soalnya tahun depan mungkin progam perkemahan siswa-siswi SMA ditiadakan ,mengingat bertepatan dengan bulan puasa. Dan juga bagi aku sendiri mungkin kesempatan terakhirku untuk mengikuti perkemahan yang setelah SMA belum bisa di pastikan untuk bisa lagi memperoleh kesempatan ini.
Sebelum hari keberangkatan kemah, aku telah mempersiapkan semua barang bawaan yang telah ditentukan pada waktu pembagian barang-barang bawaan setiap anggota Sanggah. Beruntung aku kebagian barang bawaan yang relatif sedikit, barang pribadiku hanya menjadi satu tas saja ,aku usahakan tidak melanggar barang-barang yang tidak boleh dibawa maka dari itu bawaan ku praktis. Dan barang untuk kelompok Sanggah ku hanya 3 macam barang saja, jadi tidak membuatku begitu repot. Packing barang aku lakukan malam hari sebelum hari keberangkatan, yang pada sebelumnya aku sempat kencan dengan Vandy. Dalam pertemuanku dengan Vandy sempat juga terjadi perdebatan diantara kita berdua, aku sempat frustasi namun aku juga lebih mutlak untuk melakukan perubahan dan aku harus melakukannya. Vandy bilang padaku bahwa kali ini dia merasa sangat kecewa dengan ku dan aku harus menyadari kesalahanku selanjutnya aku harus benar-benar merubah sikap buruk ku dengan menggantikan sikap yang semestinya yang menurut Vandy juga bagian sikap ku ini benar-benar sulit jika akan dihilangkan. Aku yang hanya bisa merasa malu karena Vandy tahu semua isi hati dan pikiranku, dan tak enak hati dengannya karena pasti aku dianggap tak menghargai semua pengorbanan Vandy , dan Vandy merasa semua pengorbanannya untukku hanya sia-sia saja. Aku pun mulai bersikeras untuk melakukan perubahan. Saat aku sedang sibuk-sibuknya mengepak barang pesan singkat dari seseorang muncul yang membuat Handphone ku berdering dengan nada “cab.mp3” yang memang nada permanen di Hp itu. Ternyata itu dari Vandy, seperti biasa Vandy mengirim pesan singkat yang selalu menanyakan “lg apa beb?”,lg dimana beb?,sama siapa beb?,udah makan blm?, dan sebagainya.
Aku sedang mengepack barang bergegas menuju kamar ku dimana Hp itu aku letakkan. Kemudian, langsung saja aku buka sms itu lalu ku baca dan membalasnya, setelah satu dua kali aku smsan dengan Vandy, aku kira dia akan membahas ulang perdebatan tadi siang tapi ternyata Vandy hanya menanyakan kapan aku berangkat kemah, dan Vandy juga pesan kepadaku, agar aku selalu menjaga kesetiaanku dan hatiku untuknya selama berkemah, jangan buat-buat masalah, dan juga jangan menumbuhkan perasaan baru kepada pria lain yang nantinya hanya akan membuat hubungan kita rusak bahkan berakhir. Aku pun setuju dan menuruti pesannya. Setelah beberapa lama, Vandy tak lagi membalas pesan singkat ku, mungkin dia sudah tidur karena Hpnya juga sudah tidak aktif, dan itu sudah menjadi kebiasaan bagi Vandy yang tidak ingin Hpnya tidak menjadi privasi lagi. Aku pun langsung pergi tidur, sebelum tidur aku berharap selama berkemah tidak ada lagi kejadian yang mengiris hatiku seperti kejadian heking yang agak terkesan seram karena berkaitan juga dengan makhluk astral.
Paginya, ibu ku telah mempersiapkan semua barang yang aku pack tadi malam, dan seperti biasanya sarapan dari ibu telah menghidang diatas meja untuk aku santap pagi ini. Ayahku yang biasa memberikan uang saku, kali ini memberikan uang saku untukku cukup banyak dari biasanya bila aku akan mengikuti kegiatan. Ibu dan ayah berpesan padaku agar menjaga sikap,perlakuan,dan bicaraku selama berkemah, tak lupa juga agar selalu menjaga kesehatan dan keselamatanku. Aku setuju dengan pesan mereka berdua, mereka tentu pasti menaruh kecemasan,kekhawatiran yang amat sangat, menjadi hal yang wajar bagi setiap orangtua.
Menuju ke sekolah aku diantar ayahku,sebelum keberangkatan aku dan siswa-siswa lain melakukan apel bersama, mendengarkan pengarahaan berkemah dari kakak-kakak DA. Setelah beberapa lama berbaris aku merasa bosan karena waktu sudah lewat dari jadwal tapi tidak juga segera berangkat, apalagi banyak sekali kata-kata yang pedas dari siswa-siswa lainnya, membuat hatiku sedikit sakit dan juga rasa kesel pun muncul dalam diriku, akhirnya aku pun merasa minder dan berpikiran pasti kegiatan kali ini tidak berjalan dengan mulus. Untung saja aku punya temen deket di sanggahku, namanya Arna dia baik dan semoga dia tidak memiliki sifat buruk seperti yang lainnya, tapi dia punya sifat yang tulus untuk berteman. Arna memberikan ku keoptimisan agar aku tidak minder , dan membiarkan semua perlakuan mereka terhadapku. Tapi tetap saja yang aku rasakan hanya ingin pulang dan pulang, tidak ingin mengikuti perkemahan ini. Aku pun berfirasat buruk, bahwa kali akan terjadi seperti heking sebelumnya, aku mersa takut sekali,tapi aku berusaha bertahan ,menenangkan diri aku sendiri, agar firasat dan ketakutanku berganti dengan kesenangan hati mengikuti perkemahan kali ini. Setelah di dalam Truk yang memang sebagai transport dari sekolah, rasa tidak yakin dan takutku masih saja menyelimutiku, Arna yang sedari tadi mengetahui hal itu , dia selalu berusaha memberiku keoptimisan, tapi tidak mempan untukku. Selama perjalanan aku berusaha untuk berdiam diri tidak seperti waktu heking hanya crewet yang aku tonjolkan. Tapi, itu tidak mengubah segalanya, malah yang ada sama saja seperti sebelumnya,aku yang mulai mendekatkan diri dengan Tuhan dalam hatiku hanya kalimat tasbih saja yang aku ucapkan, dan berharap supaya bisa merubah segalanya.
Kelihatannya sudah setengah perjalanan tiba-tiba saja truk itu berhenti, ternyata pengecekan apakah ada yang jatuh sakit. Tadinya aku tidak merasakan tanda-tanda akan pingsan , tapi sesaat kemudian aku yang tadinya berdiri , aku langsung mengambil posisi duduk dan aku merasaakan akan tidak tersadarkan diri, dan ternyata benar. Seingatku, setelah tersadar aku melihat diriku telah terbaring didalam ambulance dan sesaat, aku mungkin tidak tersadarkan diri lagi, karena pada akhirnya aku terbaring pada teras villa, ternyata aku telah sampai ditempat perkemahan. Disekitar ada beberapa kakak-kakak yang tergabung dalam satuan PMI, mereka berusaha membuatku aku cepat tersadar dan kembali sehat. Seperti biasanya bila aku mengalami tidak sadarkan diri, dan sesak nafas, efeknya tubuhku menjadi kaku bercampur dingin, bagaikan mayat hidup dan untuk menjadi normal pun begitu lama sekitar 30an menit.
Aku tersadar dari pingsan, kakak-kakak PMI berusaha untuk membuatku tertawa agar aku segera sehat dan normal. Seluruh tubuhku masih lemas ,aku belum mampu untuk berdiri , jadi aku masih terbaring dan sesekali aku duduk di sandaran kak Diana , rasanya enak sekali karena badan kak Diana yang gemuk dan empuk. .hehe. setelah beberapa lama, aku pun merasa agak baikan akupun diajak bergabung bersama PMI dan ngobrol-ngobrol bareng sambil ditemani hidangan teh dan beberapa makanan ringan sambil kami bersendau gurau. Tapi aku tetep diam saja dan sama sekali tidak tertarik dengan semuanya, aku menganggapnya tidak ada yang penting jika aku lakukan, pasti hanya akan aku dapatkan kecapean saja. Temen-temen PMI mungkin merasa kesel dan bosan karena aku yang tak kunjung bisa sedikitpun tersenyum ataupun memperlihatkan keceriaan di wajahku. Tapi mereka tetap saja bisa bersahabat denganku, tak lama kemudian salah satu guruku bernama Pak Imam menghampiriku yang sedang bergabung dengan PMI dengan membawakan segelas teh manis hangat, dia menanyakan keadaanku, dan bilang padaku bahwa dia juga telah menelpon orangtuaku mengabarkan keadaanku.
Aku yang adanya hanya lamunan saja beberapa kali selalu dikagetkan temen-temen PMI. Entah apa yang aku lamunkan , namun aku merasa begitu nyaman bila aku terus menerus melamun. Pada akhirnya mereka memutuskan aku tidak perlu mengikuti kegiatan pada hari pertama berkemah, tapi masih sama aku menanggapi dengan tanpa ekspresi , hanya bilang trimakasih pada mereka. Mereka menawariku untuk tidur,di dump temen-temen PMI yang telah mereka dirikan sedari tadi, kalau kondisiku belum juga pulih. Aku pun menerima tawaran mereka, dan aku tidur cukup lama di dalam dump bersama salah satu teman ku namanya Lita, dia merasa pusing dan perutnya mual,karena sebelumnya diperjalanan menuju lokasi dia muntah beberapa kali di dalam mobil ambulance. Maka Lita ikut tidur di dump bersamaku, cukup lama aku tertidur dan setelah bangun tapi tetap masih terbaring, aku mendengar suara Lita meminta ijin sama kak Diana mau kembali ke tenda sanggahnya, karena dia rasa pusing dan perut mualnya sudah hilang dan dia sudah merasa baikkan. Lita langsung diberi ijin dan dia pun langsung lari menuju tendanya. Aku yang masih merasakan tubuhku lemas dan belum mampu untuk bangun dari tidurku hanya diam dan melanjutkan tidurku sambil memegang leher belakangku karena terasa sakit dan sarafnya menarik kuat.
Matahari sepertinya semakin bersinar, adzan Dzuhur pun telah berkumandang, menunjukkan bahwa hari semakin siang pukul 12.00 WIB dan waktunya makan siang. Tetapi aku belum juga bangun dari tidurku, tubuhku masih terasa lemas sekali dan leherku masih kuat sakitnya. Tiba-tiba saja penutup dump di buka, seseorang membangunkanku beberapa kali tapi sudah menjadi kebiasaanku bila aku tertidur seperti orang mati yang diam saja karena pulas. “dik bangun, udah jam makan siang, kamu pasti lapar kan?”...kata-kata kak Diana yang berusaha membangunkanku, tapi tetap saja aku tak bergegas bangun, malah aku menggelengkan kepala saja tanda aku tidak mau makan. Kembali kak Diana bilang kalau tidak mau makan ya sudah aku disuruh tidur lagi biar benar-benar bisa pulih normal badanku. Aku berusaha untuk memejamkan mata ini agar aku bisa tidur pulas lagi, tapi gak bisa. Akhirnya kak Pika datang membawakan seporsi makanan untukku, katanya makanan itu yang ngirim dari temen-temen sanggahku,dalam hati aku berkata ternyata mereka peduli juga denganku. Mereka memaksaku untuk makan ,aku tetap tidak mau makan akhirnya makanan itu dimakan sama pak Samsury ketua PMI sekaligus sopir ambulance, dan temen-temen PMI yang lain berusaha menghiburku agar aku sedikit punya semangat.
Saat itu dalam hatiku berkata, kenapa mereka begitu pedulinya sama aku bahkan sudah kaya temen sepermainan yang telah bertahun-tahun menjadi sahabat, karena selama ini temen-temen aku belum pernah ada yang senetral mereka, belum pernah aku dibuat terhibur yang tulus dari hati temen-temen aku, belum pernah ada juga aku punya temen kaya mereka yang selalu happy bersendau gurau dan semuanya peduli saling toleransi saling menghargai dan bener-bener netral kaya yang aku lihat saat itu. Sebenarnya aku pengen banget punya temen-temen yang peduli,toleransi,netral saling menghibur jika ada yang lagi susah, tapi selama ini belum pernah kutemukan temen yang bisa jadi sahabat. Yang ada mereka selalu ninggalin aku saat aku lagi down, lagi banyak masalah, lagi susah, gak punya duit dan segala macem. Mereka ada waktu saat aku lagi ceria,banyak duit,nurut sama mereka,lagi posisiku diatas. Sering kali hati aku tertekan dengan semua perlakuan dan kebiasaan mereka itu, aku sakit hati dengan cara mereka yang selalu jauh-jauh sama aku, dan waktu aku tegur atau apa lah, mereka bilang maksud mereka bukan begitu mereka selalu bilang kalau mereka juga sahabat aku begitu juga sebaliknya. Terkadang aku bingung, apa sebenarnya yang kurang dari aku ,selama aku bareng sama mereka rasanya aku selalu dukung mereka dan lebih toleransi sama mereka, tapi mereka malah semakin menginjak-injak harga diri dan meremehkanku mereka menganggap aku gampang untuk dijadikan pesuruh mereka padahal aku lebih merendah dari mereka karena aku ingin mereka juga beri toleransi sama aku dan sebenarnya aku ikhlas melakukan semua itu kepada mereka. Hmm...gak usah panjang lebar , kembali lagi ke cerita...
Mereka menawarkanku untuk memilih ingin ke tenda atau di pendopo saja, aku hanya diam saja tak menjawab semua tawaran mereka. Kemudian aku menyuruh salah satu anggota PMI untuk memanggilkan Arna untuk menemuiku, saat itu kegiatan pertama telah dimulai yaitu game untuk setiap sanggah yang mengikuti. Aku hanya duduk menunduk sambil memegangi kedua kakiku. Tak berapa lama salah satu ibu guru pembimbingku datang menghampiriku dan menawarkan untuk ikut bersamanya di dalam kamar villa agar lebih merasa nyaman. Dan menawariku kalau aku mau pulang ,barengan sama bu Fad kepala sekolah saja , karena bu Fad juga nanti akan mengantarkanku sampai rumah. Aku lama berpikir , kalau aku benar pulang sia-sia saja aku sudah sampai di lokasi perkemahan, tapi kalau aku tidak pulang disini sama sekali tidak ada yang menarik buatku. Akhirnya aku pun ikut bersama bu End kedalam villa kamarnya dengan Arna juga, kami mengobrol di sana dan bu Fad menghampiriku menawarkan untuk ikut dengannya pulang dan akan diantarkan sampai rumah, bu Fad memintaku untuk menceritakan semua yang aku rasakan saat itu juga aku merasa takut terhadap pantai. Sepertinya bu Fad mengerti yang aku jelaskan , bu Fad juga bilang kalau ia fobia kuning telur. Karena waktu kecil bu Fad pernah menelan satu bulatan kuning telur dan hampir saja maut didapatkannya. Bu Fad berulang kali memintaku untuk pulang saja bersamanya, namun aku tetap bersikeras untuk ikut kegiatan nanti malam, aku juga meyakinkan bu Fad bahwa aku kuat. Akhirnya bu Fad setuju akan keinginanku, lalu bu End datang dan mengajakku ke pendopo depan untuk mengobrol dengan guru-guru lain sambil melihat game yang dilakukan temen-temenku yang lain. Kami duduk bersama di pendopo itu, dan salah satu guru ada yang bilang padaku, game menarik seperti itu apa kamu gak kepengen Da ? aku hanya menggelengkan kepala saja sambil tersenyum. Pak Im menghampiriku dan menanyaiku tentang semua kejadian saat itu pada diriku. Aku menceritakan dan sepertinya pak Im mengerti apa yang aku jelaskan.
Waktu telah menunjukkan pukul 15.35 itu berarti sudah sore hari, dan anak-anak yang melakukan game ataupun kegiatan lain terhenti sementara, mereka semua bergegas ke tempat mandi untuk membersihkan tubuh mereka dari kotoran yang seharian menempel di seluruh tubuh mereka. Tempat mandi di villa itu sebanyak lima kamar mandi dan mereka berantrian untuk bisa membersihkan tubuh mereka. Aku pun bangkit dari duduk ku dan mengambil peralatan mandi di dalam tas ku yang berada di kamar villa, dan menuju ke salah satu tempat mandi yang agak sedikit antriannya. Giliranku untuk mandi telah tiba ,aku mandi dengan dua teman perempuanku dan waktu mandi dibatasi 5menit selesai. Selesai mandi aku langsung menuju tenda sanggahku, dan aku hanya tiduran di sana karena badanku masih terlalu lemas, hanya lamunan saja yang aku lakukan. Sesekali temanku mengagetkan dari lamunanku dan berusaha agar aku tidak melamun saja.
Malam hari itu kami semua bersiap-siap untuk mengikuti caraka malam, sebelumnya aku menuju tenda PMI bermaksud meminta obat antibiotik, karena salah satu teman ku terkena radang dan badannya demam tinggi dan hingga jatuh pingsan, anggota PMI langsung menuju tenda sanggahku dan membawa temanku ke tenda PMI untuk di tangani. Seseorang datang dan memberi kabar bahwa orangtuaku menelpon dan memintaku agar makan dulu sebelum melakukan caraka malam. Terdengar pengeras suara mengumumkan bahwa semua siswa agar berkumpul di samping pendopo untuk persiapan caraka malam, kami berbaris dengan tertib dan mendengarkan penjelasan dari kakak-kakak DA. Sebelum kami semua berangkat melakukan caraka malam kami disuruh menutup mata dengan slayer, selanjutnya diminta untuk berusaha tidur agar dalam melakukan caraka malam tidak merasa kantuk di perjalanan. Cukup lama tidur dan menunggu giliran keberangkatan caraka malam, tubuhku dingin sekali tapi aku sendiri tidak merasakan kedinginan. Pak Im memintaku untuk keluar dari barisan dulu, karena ada telepon dari orangtuaku dan aku harus menjawabnya.
Kami berangkat caraka malam dan menuju pos-pos yang ada untuk mendapat tugas. Selama perjalanan sedikitpun aku tak merasakan takut, hanya perasaan santai saja yang ada, dan tak terasa tengah malam pun tiba tapi aku masih merasakan waktu belum tengah malam, dalam perjalanan kakak-kakak DA yang bertugas menakut-nakuti kami telah bersiap , ada yang mengerang seperti serigala, ada juga yang bersuara seperti kuntilanak atau setan lainnya. Kami melewati rintangan dengan mulus dan lancar. Sampai akhirnya sampai lokasi terakhir dan selesailah caraka malam. Esok harinya aku bangun tidur dan langsung bergegas mandi, hari itu aku memilih untuk menjaga tenda dan memasak. Aku tidak mau mengikuti kegiatan hari itu yang melewati pantai dan masuk ke dalam lumpur yang hitam dan kotor, apalagi badanku juga belum sembuh total. Aku menjaga tenda, memasak, dan mengurus kedua temanku yang sakit. Mereka aku masakan sop agar setelah kembali dari melakukan kegiatan caraka siang, lapar dan dahaga mereka terobati. Teman-temanku yang mengikuti kegiatan siang hari itu, dengan waktu yang dihitung kakak DA mereka cepat-cepat mengambil peralatan mandi, dan bergegas menuju tempat mandi untuk membersihkan tubuh dari lumpur yang menempel.
Sore itu lomba memasak dengan bahan dasar ubi jalar dimulai, kami semua berusaha membuat makanan dari ubi jalar menjadi nikmat agar mendapatkan peringkat. Sanggahku membuat makanan dari ubi jalar yang dibuat bulat dan di beri bubuk roti tawar agar saat di goreng menjadi renyah. Setelah 30 menit kami diminta mengumpulkan makanan yang telah kami buat karena waktu telah habis. Kami berharap agar makanan yang kami buat termasuk nikmat dan mendapat peringkat. Saat itu juga banyak sekali waktu bersantai, aku mendatangi tenda PMI yang disana beberapa teman PMI sedang berkumpul sambil mengobrol dan ditemani beberapa camilan. Mereka menyambutku dengan penuh keramahan dan senyuman. Salah satu dari mereka mendekatiku dan berkata apa yang kamu lihat?. Dia adalah kak Dwi yang juga dapat mengetahui keberadaan makhluk astral, dia bilang juga padaku agar aku tidak memuji dan membuat mereka(makhluk astral) tidak merasa di tinggikan keberadaannya karena hanya akan membahayakan diri. Aku juga menceritakan yang aku alami dan kak Dwi mengerti akan semua ceritaku yang dia dengar. Aku mengobrol dan bersendau gurau dengan mereka, sungguh mereka seperti sahabat baik ku yang lama bersama, mereka peduli terhadapku dan mau mendengarkan curhat ku, mereka juga berusaha membuatku ceria. Dan ini membuat aku sedikit lebih tenang dari semua kegundahanku. Namun tetap saja dalam keasyikanku , dalam hatiku berkata apakah Vandy memikirkanku saat aku jauh darinya? Apakah Vandy selalu menjaga hatinya walau aku tidak di dekatnya? Apakah Vandy hanya dirumah saja dan tidak macam-macam di sana ? apakah Vandy tidak akan bertemu atau pergi bareng bersama saudaraku ? hah...sudahlah , aku selalu percaya dengan Vandy bahwa jiwa dia berbeda dengan laki-laki kebanyakan , Vandy tidak mungkin melakukan perbuatan yang bodoh/konyol. Aku berusaha menenangkan hatiku yang diselimuti penuh kegundahan.
Adzan magrhib telah berkumandang, aku sedang tidak sholat jadi aku tidak ikut sholat berjamaah. Aku masih ngobrol bareng sama kak Diana dkk,di tenda PMI. Setelah sholat magrhib berjamaah selesai, aku pun kembali ke tenda sanggahku bergabung kembali bersama teman-teman. Dan aku lihat tiga teman ku dari 10 orang sedang sibuk berlatih menyanyi accapella-an, sedangkan yang lain duduk sambil mengobrol,ada juga yang tiduran dan ada juga yang sedang asik ngemil. Terdengar informasi dari pengeras suara bahwa sebentar lagi kita semua akan melakukan upacara api unggun, tapi keliahatannya langit tidak bersahabat malam itu sepertinya akan hujan dan langit sudah menitikkan airnya. Maka kakak-kakak DA meminta agar semua siswa segera menuju lokasi upacara api unggun. Dalam upacara api unggun yang sebagai pembina upacara adalah bu Fad kepala sekolah kami, setelah api dinyalakan dan terbakarlah kayu yang sengaja ditata rapi menyerupai piramida beberapa kembang api pun dinyalakan dengan suaranya yang khas dan nyanyian kami api kita sudah menyala menjadi terkesan lebih unik dan istimewa. Selesai melaksanakan upacara api unggun, kami semua kembali ke tenda sanggah masing-masing, untuk menunggu sambil mempersiapkan pentas seni. Malam itu adalah kegiatan terakhir dengan pentas seni tujuannya supaya kami semua dapat merasakan ke-enjoy-an,dan tentunya happy bareng. Waktu dimulainya pentas seni telah tiba dan berlangsung cukup meriah dan cukup untuk refreshing bagi para siswa yang merasakan kecapean,kejenuhan ataupun ketertekanan untuk mandiri dan jauh dari sanak keluarga. Lagu yang dalam pentas seni itu yang cukup membuat hati para penonton tersentuh yaitu lagu ayah yang dibawakan beberapa orang secara bergantian dan bermacam cara pembawaan mereka misalnya musik yang dibawakan secara berbeda.
Disisi lain aku menyendiri ikut bergabung bersama teman PMI karena aku baru tidak suka kebrisikan di tengah orang banyak. Aku duduk diantara kak Diana dan kak Pika yang selalu mau menjaga dan menemaniku. Tubuhku masih agak lemas, dan aku pun sama sekali tak bergairah ataupun tertarik dan senang dengan adanya pentas seni itu, yang ada aku malah mengabaikannya karena menurutku itu bukanlah hal yang penting, hanya sekedar mungkin untuk cari perhatian dari seseorang yang mereka sukai atau mereka pengen mendapatkan pujian dari banyak orang, dan menurutku itu hanya akan buang-buang tenaga saja yang membuat capek. Cukup lama pentas seni itu berlangsung dan semakin lama aku merasa tidak nyaman ,berharap segera selesai pentas seni itu agar aku bisa cepat-cepat pergi ketenda dan tidur karena semakin lama aku merasa tubuhku drop. Kak Okik yang masih duduk dengan ku memberikan spring untuk aku kenakan agar aku tidak jatuh sakit lagi, kak Okik seperti adek aku yang selalu berusaha menjaga kakaknya dia masih seperti anak kecil tapi baik dan peduli kaya sahabat sejati. Aku bilang ke kak Okik kalau aku lagi drop dan aku butuh istirahat , aku juga bilang kalau aku tidak merasa nyaman dengan pentas seni malam itu, dan aku juga bilang bahwa temen-temen aku itu sebenarnya selalu menjauhiku yang tidak pernah mau sama aku. Aku pun juga bilang aku kangen banget sama Vandy,orangtuaku, dan juga alat-alat elektronikku dirumah. Maka kak Okik menyuruhku agar kembali ke tenda sanggahku supaya sedikit lebih tenang. Awalnya aku ragu mau kembali ketenda, karena mungkin kakak DA belum mengizinkan untuk kembali ke tenda. Tapi setelah aku merasa tidak mampu lagi bertahan dalam drop ku ,aku pun langsung berjalan menuju tenda sanggahku dan langsung berbaring tidur. Tiba-tiba penutup tenda terbuka ternyata kak Okik yang menanyakan keadaanku, memastikan apakah aku benar tidak apa-apa kalau ditenda sendirian daln kalau aku tidak bisa sendiri akan dipanggilkan salah satu teman sanggahku ke tenda. Aku menggelengkan kepala memutuskan untuk sendiri saja di tenda. Beberapa kakak DA berjaga disekitar tenda kalau-kalau aku jatuh pingsan lagi dan kaku.
Sesaat kemudian pentas seni telah usai, dan aku mendengar suara ramai masuk ke dalam tenda mereka teman-teman sanggahku yang kembali dari menonton pentas seni, tapi aku semakin merasakan lemas diseluruh tubuhku, dalam hatiku sepertinya aku sudah tidak kuat lagi. Aku dibawa kedua temanku ke tenda PMI dan dibaringkan di ambulance untuk diberi bantuan oksigen , karena setiap aku jatuh pingsan aku mengalami sesak nafas, selanjutnya tangan dan kakiku kaku dingin. Mungkin cukup lama aku tidak sadarkan diri, aku terbangun dan disekitarku telah ada beberapa teman-teman anggota PMI yang menanganiku terutama kak Diana yang selalu ada disamping aku, saat-saat aku bangun dari pingsan. Malam itu aku tidur di dump bersama kak Diana dan kak Pika. Nyenyak sekali aku tertidur, seperti orang mati saja, dan susah juga kalau disuruh bangun.
Esok harinya, aku dibangunkan dengan suara lembut dan malas kak Diana memintaku agar segera bangun karena mentari sudah memunculkan wajahnya. Dengan malasnya aku membuka mata , seperti biasa setiap pagi usai bangun tidur pasti kebelet kencing pengen kebelakang, sepertinya pagi itu udara dingin sekali sama seperti tadi semalam yang dingin menusuk tulang. Aku permisi pada kak Diana akan kebelakang , dan langsung aku bergegas ke kamar kecil, tapi sial ternyata kamar kecil terpakai dan aku berusaha menahan maksudku ,menunggu agak lama. Akhirnya orang itu keluar juga dari kamar kecil, aku langsung menyerobot masuk dan lega akhirnya, pagi itu air di dalam bak tinggal sedikit, kran-nya pula mengalir sedikit air saja, huh hatiku agak sedikit kecewa karena tadinya aku sekalian ingin membasuh tubuhku supaya terasa segar dan lebih bersih, namun aku hanya membasuh mukaku saja agar tidak terlihat kumal saat dari bangun tidur. Terlihat teman-teman ku selesai berberes-beres dan merobohkan tenda karena pagi ini jam 09.00 kami semua akan melakukan upacara penutupan dan kembali pulang menuju rumah masing-masing. Hatiku seperti disiram air es dari kutub yang terasa dingin segar, senang sekali hatiku, akhirnya bisa pulang juga. Benar-benar aku tidak sabar ingin segera cepat-cepat sampai rumah , aku merasa tidak betah sekali ditempat itu. Langsung ku hampiri teman-teman sanggahku dan juga barang-barang yang harus aku bawa pulang. Sebelum kami pulang, terlebih dahulu kami melakukan upacara penutupan perkemahan lokasi BUPER Girijati Purwasari Gunungkidul. Upacara berlangsung dengan sangat khiqmat, pagi itu dua temanku pingsan mungkin akibat kecapean atau apa lah, yang jelas kami semua tidak ada yang lagi bener-bener fit setelah selama 2 hari 2 malam berkemah. Usai upacara penutupan, kami semua membawa barang-barang ke pinggir jalan, medan untuk mencapai jalan raya harus naik kira-kira 45 meter , huhh..betapa beratnya untuk mencapainya, jalan kaki biasa tanpa membawa barang saja sudah membuat nafas terengah-engah apalagi harus membawa barang-barang yang cukup banyak dan tidak ringan semua. Tapi, aku yakin pasti kuat dan bisa sampai di atas dengan semua barang bawaanku.
Akhirnya sampai di atas juga, langsung saja ku naikkan semua barang ke pick up pribadi yang memang disewa sanggah ku. Aku dan temanku kembali kebawah membantu salah satu temanku membawa barang yang belum terbawa ke atas. Dengan nafas yang terengah-engah ,kami tetap berjalan menaikki medan yang cukup tinggi itu dan akhirnya kami sampai juga diatas, langsung saja temen-teman satu sanggahku menaikki pick-up dan sopir segera tancap gas untuk segera pulang menuju tempat tinggal kami. Kami merasa haus sekali , kamipun berhenti disebuah toko bermaksud membeli minuman untuk melepaskan dahaga dikerongkangan kami. Kami membeli beberapa minuman dan langsung kami minum , dan lega juga dahaga terlepas dari kerongkongan kami yang kering. Sepanjang perjalanan kami tampak ceria sekali yang juga tidak sabar ingin segera sampai rumah dan beristirahat bersama keluarga yang 2 hari ini sempat berjarak jauh. Aku memberi kabar ayahku bahwa aku sudah diperjalanan pulang dan aku memintanya untuk menjemputku disekolah, dan aku pun tak sabar ingin segera menelpon Vandy , aku kangen banget sama Vandy yang 3 hari ini tidak bertemu ataupun komunikasi. Angin segar yang berhembus aku rasakan , membuat hatiku senang dan damai. Membuat aku teringat saat-saat kencan bareng dengan Vandy dan pernah juga jalan yang aku lewati saat ini yaitu jalan yang juga pernah aku lewati bersama Vandy beberapa bulan sebelumnya, yang paling buat ku ingat dalam perjalanan saat di dalam mobil kita bersendau gurau bersama, sambil sesekali bertukar cerita , sambil ditemani music-music khas kesukaan aku dan Vandy yang membuat jantung berdegub lega dan musik-musik itu enak dirasakan/diresapi, didengarkan nyaman jika sudah melekat dengan jiwa. Semua moment itu tak pernah bisa terhapuskan dalam ingatanku yang ada hanyalah bahagia,tenang, dan nyaman saja..
Setelah sampai di sekolah, aku menunggu ayah ku menjemput agak lama. Sedikit kecewa hatiku karena menunggu ayah yang lama tidak juga menjemputku, tapi tetap sabar menunggu sampai ayah menjemputku. Cukup lama aku menunggu akhirnya ayahku datang juga, akupun pulang dengan perasaan yang sangat lega bagaikan terbang diatas uap air terjun yang sekelilingnya dipenuhi tumbuh-tumbuhan yang menghiasnya.....
................alhamdulillah..
Langganan:
Postingan (Atom)