BERDARAH BERLALU
11 NOVEMBER 2014
Darah ? ya, darah keluar lagi dari dalam hidungku, selalu
membuatku terkejut. Setiap pagi seusai mandi, darah itu selalu keluar dari
dalam hidungku. Namun, aku tak terlalu menghiaraukannya, aku pikir itu mungkin
hanya luka biasa yang disebabkan dari benturan ringan yang tak membahayakan
kesehatanku. Itu terus menerus terjadi berulang kali. “ibu, hidungku keluar
darah lagi.” Begitu aku berseru kepada ibuku yang sedang tengah menyiapkan
sarapan untukku pagi ini. “memangnya kenapa ? apa kamu sakit? Mungkin bekas
tonjokan dulu itu”. Begitulah ibuku menjawabnya. Pikiranku langsung melayang
memikirkan bagaimana kalau nanti ini membahayakan diriku? Jujur aku tidak ingin
orang-orang yang menyayangiku sedih karena mereka tahu kalau aku begini. Mereka
telah memberikanku segalanya dari mereka , dan aku pun belum sempat
membalasnya, dan aku tidak ingin memberikan sebuah penderitaan lagi untuk
mereka yang mungkin akan lebih parah dari yang sebelumnya.
Aku berpikir darah yang keluar dari dalam hidungku, karena
kejadian sadis dulu yang sempat membuatku putus asa dan kehilangan arah. Waktu
itu Sabtu, aku mendapat acara untuk gladhi bersih panitera porda kempo yang
akan dilaksanakan esok harinya. Namun, pikiranku berencana lain , handphone ku
berbunyi kulihat ada pesan singkat masuk ternyata dari seseorang yang baru aku
kenal beberapa hari lalu. Dia mengajakku untuk jalan bareng, aku pun mengiyakan
ajakannya. Namun aku bingung harus bertemu dimana? Akhirnya dia memberitahukan
lokasi untuk bertemu, kami bertemu di tempat penitipan kendaraan dekat pasar
besar di kota ku. Dia telah menunggu disana dan aku segera menitipkan sepada
motorku, karena aku akan satu mobil dengannya untuk jalan-jalan. Setelah masuk
ke mobilnya, aku hanya menunjukkan senyuman saja tanpa berkata apapun, masih
terasa canggung sekali , karena baru beberapa hari kenal. Selalu dia yang memulai pembicaraan karena
aku sendiri juga belum terbiasa berbincang dengan orang sepertinya. Dia memang
orang yang populer dimana-mana, sampai-sampai setiap dia berada di tempat mana
pun pasti ada yang mengenalnya. Dia terkenal dengan hatinya yang mulia.
Sepanjang perjalanan aku sering berdiam diri saja dan hanya menanggapi
perbincangannya dengan senyuman dan gumaman saja. Kami berkunjung ke Kaliurang,
udara disana begitu dingin, tak lama telah sampai gerbang masuk Kaliurang dia
membayar tiketnya, dan tak lama telah sampai di puncak Kaliurang. Dia
mengajakku makan bersama, sambil kami bercanda tawa, berbagi cerita, dan
ngobrol-ngobrol biasa. Setelah kami puas mengobrol dan selesai makan, aku pun mengajaknya
pulang karena sebentar lagi waktu menunjukkan bagdha magrhib, pasti orang tua
ku sudah menunggu dirumah, dan aku pun bingung alasan apa yang harus kuberikan
untuk orangtuaku. Aku menyuruhnya agar agak cepat menyetirnya, supaya cepat
tiba dirumah. Namun, dia malah hanya tertawa dan mengejekku, dia tahu bahwa aku
sudah terbiasa pulang telat. Sepanjang perjalanan pulang, aku tak tahu sama
sekali apa yang dia perbincangkan, aku memang lola(loading lama) atau lama
nyambungnya. Yah...jadi aku cuman terlihat seperti orang o’on saja.hha. yang
ada dia hanya tertawa berulang kali melihat ku seperti itu. Waktu menunjukkan
pukul 19.25, kami telah sampai di penitipan kendaraan di kotaku. Sebelum aku
turun dari mobil, dia mencium kening ku dan berkata “langsung pulang ya, jangan
kelayapan kasihan orangtuamu telah menunggu di rumah.” Aku hanya menganggukan
kepala dan keluar dari mobilnya, dan langsung saja aku masuk ke tempat
penitipan kendaraan untuk mengambil motorku dan segera pulang. Namun,
dipikiranku berencana lain, bahwa aku enggan untuk segera pulang dan aku ingat
bahwa malam itu malam minggu pasti di pasar malam ramai banyak orang yang
berkunjung disana. Tapi, tidak mungkin aku ke pasar malam seorang diri pasti
tidak akan seru jika tak bersama teman. Segera aku kirimkan sms ke salah satu
teman yang bernama Yusi, beberapa detik muncul balasan sms dari Yuka. Yuka
menerima ajakan ku untuk pergi ke pasar malam. Langsung ku tancap gas menuju
kerumah Yusi untuk menjemputnya, tak berapa lama aku pun sampai dirumah Yuka.
Kami pun langsung menuju ke pasar malam. Setelah tiba di pasar malam aku
mengirimkan sms ke Binsar pacarku waktu itu, kusuruh dia datang ke pasar malam
menemuiku. Bangkit mengajakkku menaikki kora-kora salah satu permainan yang ada
di pasar malam itu. Setelah usai menaikki kora-kora aku mengajak Yuka untuk membeli
beberapa pakaian. Setelah itu, aku pun mengajak Yuka untuk makan bersama dengan
Binsar juga. Kami bertiga makan kwe tio di pinggir jalan dekat pasar malam yang
aku kunjungi. Tiba-tiba aku teringat akan pria yang baru aku kenal dan
sebelumnya seharian jalan bareng denganku. Ku ambil handphone di saku ku, dan
ku coba menghubungi dia namun, nomor telephonnya telah tidak diaktifkan lagi.
Mungkin dia sudah tidur, memang dia jarang mengaktifkan telephonnya. Hatiku
sedikit kecewa, lalu ku kembalikan pikiranku bersama Yuka dan Binsar, untuk
makan bersama bertiga. Aku terkejut, tiba-tiba saja ada dua orang duduk yang
tak agak jauh dari aku duduk. Ternyata mereka Risma dan Viko, mereka adalah
orang yang sebelumnya tinggal satu rumah dengan ku dan kakaknya. Seminggu yang
lalu aku diusir dari rumah kakaknya Viko, masalahnya aku update status di Fb
yang dianggapnya mencemarkan nama baik keluarga Viko. Padahal tidak
mengatasnamakan mereka samasekali, di dalam status akun fb itu hanya pemaparan
tentang curahan hatiku yang semakin hari semakin berat dan tertekan saja.
Aku dan kedua temanku itu bercerita, entah apa yang salah
dari ceritaku. Tiba-tiba saja Viko beranjak dari duduknya dan marah sambil
menonjok hidungku hingga hidungku mengeluarkan darah segar dan sakit sekali
rasanya hidungku, seperti ditusuk sate saja.ya Gusti.... Selanjutnya Risma
yaitu pacarnya Viko akan menamparku tapi telah aku tangkap tangannya sehingga
Risma tidak bisa menamparku, dia hanya menendangi ku, aku pun membalasnya
dengan tendangan lebih keras. Maklum waktu itu aku masih aktif kegiatan
beladiri KARATE ku, jadi tidak heran kalau apa yang diajarkan di beladiri aku
terapkan saat kejadian yang membuat diriku terancam dan mendesak. Binsar juga
membantu ku , dia menarik Viko menjauh dariku, tapi Viko juga memberikan
tonjokan ke muka Binsar. Beberapa saat kemudian Viko dan Risma pergi, mungkin
sudah puas menonjok hidungku hingga berdarah. Sebelum mereka pergi langsung
saja aku ambil botol berisi saus cabe yang memang ada di warung itu, dan ku
lemparkan ke arah Viko dan Risma. Tetapi tidak mengenai mereka, hanya mengenai
motornya saja. Mereka pun langsung saja pergi sambil berkata-kata kasar
kepadaku. Aku membayar makanan dan ganti rugi botol yang telah aku lemparkan
hingga pecah. Langsung saja aku mengambil motor ku dan bermaksud untuk mengejar
Viko dan Risma, tapi Binsar mencegahku. Aku berpikir, daripada menambah masalah
aku pun menuruti Binsar untuk tidak mengejar mereka.
Yuka ku ajak pulang , waktu telah menunjukkan pukul 22.30
WIB. Aku takut nanti orang tua Yuka marah, karena pulang telat. Akhirnya aku
dan Yuka mampir di tempat saudaranya Viko. Aku mengadukan masalah yang baru saja
terjadi kepadanya (saudaranya), tapi dia tak begitu merespon dengan baik.
Seakan-akan dia senang atas permasalahan yang baru saja terjadi. Membuatku
begitu jengkel, lalu aku pulang dan mengantarkan Yuka pulang kerumahnya.
Setelah sampai dirumah, langsung ku ceritakan masalah yang baru saja aku alami
kepada ibu dan bapak ku. Mereka begitu kaget, dan sekejap mereka begitu
khawatir dan sedih. Segera mereka mengajak ku ke kantor Polisi untuk melaporkan
masalah yang menimpaku itu. Segera ku beranjak mengikuti mereka untuk pergi ke
kantor polisi terdekat di daerahku. Setelah sampai di kantor polisi ternyata
pihak polisi tidak bisa mengatasi masalah yang aku alami tersebut. Mereka
bilang bahwa kejadiannya bukan di wilayah daerahku, mereka menyuruh untuk
melaporkan ke kantor polisi yang dekat dengan kejadian tersebut. Aku dan
orangtuaku langsung menuju ke kantor polisi yang dekat dengan kejadian yang
sebelumnya aku alami. Namun setelah kami sampai setengah perjalanan ayah ku
mengajakku untuk pulang dan ibu ku heran dan tetap bersikeras untuk tetap
melaporkan ke kantor polisi. Namun ayahku segera memutar balik arah dan menuju
rumah. Sesampainya dirumah ayah ku menceritakan perasaannya bahwa ia merasakan
ketakutan yang amat sangat untuk
melapor. Maka ia lebih baik kembali dan mengurungkan niatannya itu.
Setelah kejadian itu, permasalahan semakin memuncak dan
semakin memberatkan langkah-langkahku saja, tapi saat itu aku tetap berusaha
menahan apa yang sedan aku rasakan , berusaha yakin kalau semua permasalahan
yang selalu datang akan cepat berakhir dan memulai suasana yang baru yang lebih
baik. Agak begitu terlupa juga , setelah kejadian itu bagaimana kejadian
selanjutnya. Namun, Da selalu yakin kalau semua masalah yang pernah terjadi
menimpaku berturut-turut akan segera berakhir dan mendapat jalan keluarnya.
Karena semua maslah yang ada itu berasal dari Tuhan yang memang ingin
memberikan ujian dan cobaan kepada umat-umatnya, untuk mengetahui seberapa jauh
kemampuan dan kesabaran mereka untuk terus bertahan dan bersabar dalam
menghadapi segalanya yang diberikan olehNYA.
Jadi, kesimpulannya kalian temen-temen Da, jangan pernah
patah semangat dan putus asa dalam menjalani kisah-kisah kehidupan yang ada di
dunia ini. Semua itu adalah skenario Allah SWT yang telah sengaja di ciptakan
untuk para umatnya, bagi yang mampu bertahan dan kuat menjalani segala macam
kisah kehidupan di dunia ini maka mereka termasuk orang-orang yang taat kepada
ALLAH SWT, dan sebaliknya bagi orang-orang yang mudah menyerah dan putus asa
maka mereka akan menjadi pengikut para syaiton. Nauzubillah minzdalib....
Da minta maaf ya, cerita ini hanyalah sekelumit kisah
kehidupan di masa lalu yang telah terkubur oleh masa-masa sekarang dan masa
kedepannya nanti. Jadi, jika ada kata-kata Da yang mungkin menyinggung perasaan
kalian jangan diambil hati dan ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun,
ini hanyalah sekedar “ketikan penghilang kebosanan” hehehe... sekali lagi Da
minta MAAF. J J J sebagai tambahan
referensi saja oke !
Da Widni september 2013
yogyakarta